Rabu, 24 Oktober 2012

BAB V MANUSIA NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA


BAB V
MANUSIA NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

A. HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1. Nilai dan moral sebagai materi pendidikan
Ada beberapa bidang filsafat yang berhubungan dengan cara manusia mencari hakikat sesuatu, salah satu diantarnya adalah aksiologi, bidang ini disebut filsaat nilai, yang memiliki dua kajian utama yaitu estetika dan etika.
Begitu kompleksnya persoalan aksiologi (nilai), maka pembahasan makalah ini difokuskan hanya pada kawasan etika. Namun term etika pun memiliki makna yang bervariasi, Bertens (2001, hlm. 6) menyebutkan ada tiga jenis makna etika:
Pertama, : Etika bias dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Kedua : Etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik.
Ketiga, : Etika mempunyai arti lagi ilmu tentang yang baik dan yang buruk. Etika disini artinya sama dengan filsaat moral.

2. Nilai moral antar padangan objektif dan subjektif manusia
Bidang etika yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupn sehari-hari, maupun bidang estetika yang berhubungan dengan persoalan keindahan, bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama dan keyakinan beragama.
Pertama : Akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya, bahkan memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia, sebagai penilai.
Kedua : Memandang nilai itu subjektif, artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya. Jadi nilai memang tidak akan ada dan tidak akan hadir tanpa hadirnya penilai.
Nilai itu objektif atau subjektifnya bias dilihat dari dua kategori:
1. Apakah objek itu memiliki nilai karena kita mendambakannya, atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai?
2. Apakah hasrat, kenikmatan, perhatian yang memberikan niali pada objek, atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa objek tersebut memiliki nilai mendahului dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita? (Frondizi, 2001, hlm. 19-24)
Dua pertanyaan ini dapat lebih dipertegas dengan pertanyaan :
1. Apakah kecenderungan, selera, kehendak akan menentukan nilai suatu objek?
2. Apakah suatu objek tadi diperhatikan, diinginkan karena memang memiliki nilai? ( Lasyo, 1990: hlm. 2)

3. Nilai di antar kualitas primer dan kualitas sekunder
Menurut Frondizi (2001, hlm. 7-10) Kualitas dibagi dua:
1. Kualitas primer, yaitu kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat menjadi ada, seperti panjang dan beratnya batu sudah ada sebelum batu itu dipahat (menjadi patung misalnya)
2. kualitas Sekunder, yaitu kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindra seperti warna, rasa, baud an sebagainya.

4. Metode menemukan dan hierarki nilai dalam pendidikan
Nilai itu memiliki polaritas dan hierarki, yaitu:
1. Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan negative yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk, keindahan dan kejelekan.
2. Nilai tersusun secara hiererkis, yaitu hierarki urutan pentingnya.
Berbeda dengan pendapat di atas, adalah pendapatnya Nicolas Rescher (1969,Hlm.14-19) yang menyatakan adanya 6 klasiikasi nilai,yaitu klasifikasi nilai yang didasarkan atas :
1. Pengakuan, yaitu pengakuan subyek tentang nilai yang harus dimiliki seseorang atau satu kelompok, misalnya nilai profesi, nilai kesukuan atau nilai kebangsaan
2. objek yang dipermasalahkan, yaitu cara dievaluasi suatu objek dengan berpedoman pada sifat tertentu objek yang dinilai, seperti manusia yang dinilai dari kecerdasannya, bangsa dinilai dari keadilan hukumnya
3. keuntungan yang diperoleh,…..,yaitu menurut keinginan, kebutuhan, kepentingan atau minat seseorang yang diwujudkan dalam kenyataan, contohnya katagori nilai ekonomi, maka keuntungan yang diperolah berupa produksi, kategori nilai moral, maka keuntungan yang diperoleh berupa kejujuran
Menurut Max Scheller ( dalam kaelan,2002,hlm.175 ) menyebutkan Hierarki tersebut terdiri dari :
1. Nilai kenikmatan, yaitu nilai mengenakkan atau tidak mengenakkan, yang berkaitan dengan indra manusia yang menyebabkan manusia senang atau menderita
2. Nilai kehidupan, yaitu nilai yang penting bagi kehidupan
3. Nilai kejiwaan, yaitu nilai yang tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungan
4. Nilai kerohaniaan, yaitu moralitas moral dari yang suci dan tidak suci
Sedangkan Noto Nagoro ( dalam Darji,D.1984,hlm.66-67 ) Membagi Hierarki nilai pada tiga :
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsure jasmani manusia
2. Nilai Vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan aktifitas
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia
Sedangkan di Indonesia ( khususnya pada decade penataran P4 ) hierarki nilai dibagi tiga ( Kaelan,2002,hlm.178 )sebagai berikut
1. Nilai dasar ( dalam bahasa ilmiahnya disebut dasar Ontologis ) yaitu merupakan hakikat,esensi, intisari atau makna yang terdalam dari nilai-nilai tersebut.nilai dasar ini bersifat universal karena menyangkut hakikat kennyataan objektif segala sesuatu misalnya, hakikat Tuhan, manusia atau segala sesuatu lainnya
2. Nilai Instrumental, ….merupakan suatu pedoman yang dapat diukur atau diarahkan
3. Nilai praksis, pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam suatu kehidupan nyata

5. Pengertian nilai
Dibawah ini akan dikemukakan sebelas definisi yang diharapkan mewakili berbagai sudut pandang
1. Menurut Cheng ( 1955 ) Nilai merupakan sesuatu yang potensial, dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif, sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia ,sedangkan kualitas merupakan atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki. ( dalam Lasyo 1999,hlm1 )
2. Menurut Dictionary of Sociologi and Related Scienci: Value,….the believed capacity of any object to satisfy human desire, the quality of any object which causes it to be of interest to an individual or a group. ( Nilai adalah kemampuan yang diyakini terdapat suatu objek untuk memuaskan hasrat manusia, yaitu kualitas objek yang menyebabkan tertariknya individu atau kelompok ) ( dalam Kaelan, 2002, hlm 174 )
3. Menurut Frankena: Nilai dalam filsaffat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan” (goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian. (dalam Kaelan, 2002, hlm. 174)

6. Makna nilai bagi manusia
Sebab seperti yang diungkapkan oleh Sheller, bahwa:
1. Nilai tertinggi menghasilkan kepuasaan yang lebih mendalam
2. Kepuasaan jangan dikacaukan dengan kenikmatan (meskipun kenikmatan merupakan hasil kepuasaan)
3. Semakin kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaanya, nilai tertinggi dari semua nilai adalah nilai mutlak. (Frondizi, 2001, hlm. 129-130)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar